Idul Adha 2011
Published by AQUA under on 20.44
Marilah kita membuka mata, telinga dan hati kita, menyaksikan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sekaligus satu perumpamaan yang sangat besar. Marilah kita melihat bagaimana umat Islam yang telah kembali kepada fitrahnya menuju ke tempat dilaksanakannya Salat ‘Id seraya mengingat akan suatu hari di mana semua manusia sejak Nabi Adam as. hingga manusia yang terakhir diciptakan Allah akan dikumpulkan pada suatu hari yang oleh Allah di dalam al-Qur’ân disebut yawmun lâ yanfa’ mâl walâ bann, illa man atâ Allah bi qalb salîm (hari yang ketika harta dan anak-anak tidak memberi manfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang tenang). Kita semua sidah jama’ah ‘Id mendatangi tempat salat ‘Id tidak satu pun yang memiliki persamaan. Kita datang dari rumah menuju ke tempat Salat ‘Id beraneka ragam cara dan bentuk. Ada yang datang berkendaraan mobil motor, sepeda, ada juga yang berjalan kaki; ada yang datang beriringan dengan anak-istrinya, bercanda dan bersenda gurau sepanjang perjalanannya, ada juga yang hanya tersenyum simpul, berdiam diri, namun ada juga yang hanya berdiam diri sedih; ada yang berpakaian serba baru nan mewah lengkap dengan segala aksesorisnya namun ada juga berpakaian yang sederhana bahkan yang sangat sederhana. Semua itu perumpamaan bagaimana ketika umat manusia datang menghadap Allah berkumpul di Padang Mahsyar, menunggu peradilan dari Qâdi Rabb al-Jalîl.
Pada hari ini adalah hari yang teristimewa, di mana Allah Swt, menamakannya sebagai hari raya haji atau hari raya qurban. Karena pada saat ini, jutaan umat Islam yang berasal dari seluruh penjuru dunia, sedang lebur dan tenggelam dalam melaksanakan ibadah haji dengan mengumandangkan takbir dan talbiyah silih berganti.
Dan pada hari ini pula, kita mengenang peristiwa sejarah yang agung melibatkan dua tokoh besar, dua orang rasul Allah yang tetap akan dikenang sepanjang zaman. Sejarah peristiwa berqurban yang dilakoni oleh dua hamba Allah yang ikhlas melaksanakan perintah Tuhan telah terlukis dalam satu rangkuman ayat yang amat sangat indah bahasanya di dalam al-Qur’an, di mana dilukiskan dalam suatu dialog interaktif antara nabi Ibrahim a.s. dengan anaknya nabi Ismail a.s, ditugaskan untuk mengqurbankan putra kesayangannya.
Ketika nabi Ismail a.s, menginjak usia remaja (kallolo campedda), sang ayah, yaitu nabi Ibrahim a.s, mendapat perintah langsung dari Allah lewat mimpi yang benar bahwa ia harus mengqurbankan Ismail putra kesayangannya. Nabi Ibrahim a.s, duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi.
Dapat kita bayangkan sendiri, bagaimana kegembiraan hati sang ayah yang telah lama mendambakan generasi pengganti dirinya dari sekian tahun lamanya, dan bagaimana tingkat kecintaannya terhadap putra tunggal, anak kandung sibiran tulang, cahaya mata, pelepas rindu, tiba-tiba harus dijadikan qurban, merenggut nyawa anaknya oleh tangan ayahnya sendiri. Tentu, suatu konflik batin yang bergejolak yang tejadi pada diri nabi Ibrahim antara kecintaan kepada anak dan ketaatan memenuhi perintah ilahi. Namun, cintanya kepada Allah jauh lebih besar dan lebih di atas daripada cintanaya kepada anak, isteri, harta benda dan materi kedunian lainnya. Oleh karena itu, nabi Ibrahim a.s, jauh lebih memilih perintah Allah yang diwahyukan lewat mimpi yang benar, tanpa memperhitungkan serta memperdulikan kosekuensi bakal apa yang akan terjadi sebagai akibat dari pelaksanaan perintah itu.
Untuk melaksanakan perintah itu, nabi Ibrahim a.s, mengajuk hati putranya dengan mengadakan dialog sebagai bentuk komunikasi efektif antara sang ayah dengan anak dalam rangka mendidik serta membina hubungan yang baik yang ditata oleh suatu ikatan batin kasih sayang, ketaatan dan kepatuhan.
Dalam dialognya seperti yang dilukiskan dalam bahasa yang sangat indah dan menyejukkan di dalam al-Qur’an:
“Wahai anak kandungku, sibiran tulang cahaya mata dan buah hatiku!, sesungguhnya ayah melihat dalam mimpi bahwa saya akan menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa yang menjadi keputusanmu”.
Ismail sebagai anak yang soleh, patuh dan taat kepada orang tua yang melahirkan dan membesarkannya, sepontanitas menjawab:
“Wahai ayahku yang tercinta, laksanakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu. Insya Allah, ayahanda akan menyaksikan sendiri bahwa ananda sabar serta tabah menghadapi ujian itu”.
Dalam suasana peristiwa yang sangat mengharukan itu, dan detik-detik yang amat menegangkan, nabi Ibrahim memeluk serta mencium kening putranya, kemudian meletakkannya dalam keadaan posisi membujur, mulailah pisau tajam yang putih berkilau digoreskan di atas leher Ismail, seraya berucap bismillah. Tiba-tiba dengan kekuasaan dan kasih sayang Allah bukan Ismail yang tersembelih, tapi se ekor kibas besar sebagai pengganti yang dibawa oleh malaikat, seperti yang dinyatakan dalam al-Qur’an:
“Dan Kami kutebus dia yaitu Ismail dengan suatu sembelihan yang besar”.
.
0 cOMEnt:
Posting Komentar